Uncategorized @id

Naik Skuter

, ()

Kesulitan utama yang telah saya alami selama beberapa minggu terakhir ini adalah menemukan studio tari yang dapat kita sangat percayai komitmennya. Setelah diberitahu bahwa kita tidak bisa menggunakan studio pertama (Dance Asia) kita harus segera mulai meneliti kemungkinan lainnya.

 

Tidak hanya itu, tapi kami harus menemukan tempat-tempat yang akan menawarkan kita ruang gratis. Setelah menemukan beberapa pusat kebugaran, kita menemukan tempat yang disebut Fit Club yang tampaknya menawarkan kita ruang yang baik pada saat yang kita inginkan secara gratis. Kami super bersyukur untuk ruangnya, dan saya bisa memberikan beberapa kelas di sana, tetapi karena perubahan lokasi, tidak banyak orang yang mampu untuk datang ke kelas. Ada satu saat lucu pas orang baru ini bergabung dengan kelas. Kami semua sedang duduk-duduk menunggu lebih banyak orang untuk datang, dan kemudian dia mengatakan (perlu diingat dia duduk tepat di sebelah saya), “Jadi, siapa gurunya?” Ketika semua orang menunjuk saya, dia melihat sambil kebingungan dan sedikit keheranan yang kentara sekali di wajahnya, menunggu kata-kata keluar dari mulutnya yang terbuka. Dia menbuat saya tertawa. Selain itu, setelah kelas kedua, saya diberitahu oleh salah satu instruktur kebugaran bahwa kita tidak bisa menggunakan ruangannya lagi. Hanya seperti itu. Cari dicari, rupanya ada miskomunikasi antara hirarki karyawan di Fit Club sehingga, ternyata bahwa kita tidak pernah benar-benar memiliki ruangan itu disaat yang kita ingin seperti yang kami pikir. Kami pergi untuk mencari kelas di tempat lain. Untungnya, kami mampu berkomunikasi dengan pemilik Dance Asia, dan kami diberi izin untuk menggunakan tempatnya, tetapi kami harus membayar biaya untuk setiap sesi. Itu dirasa kurang optimal, tapi pada saat itu, itu benar-benar satu-satunya pilihan kami, dan saya pikir lebih baik bahwa kita kembali ke Fit Club. Selain dari itu, latihan-latihan ini sudah jadi fantastis. Laju kelas akan sedikit lambat, tapi partisipannya rajin. Segera kita akan pindah ke bagian kedua dari koreografi, dan tujuan saya adalah untuk menguasai tiga bagian pada akhir waktu saya di sini.

Minggu ini saya punya sesi solo pertama saya dengan panti asuhan wanita Yappa Muslim. Seperti yang telah saya catat dari pengalaman yang lalu dengan gadis-gadis, mereka tampaknya sedikit terobsesi dengan beat boxing. Untuk menarik keinginan mereka, saya memutuskan untuk memimpin sesi mengenai dasar-dasar beat boxing serta rap. Itu luar biasa untuk melihat betapa gadis-gadis ini berdedikasi pada sesi ini. Setelah sesi beat boxing, sebagian besar suara yang saya ajarkan terdengar baru bagi mereka, tetapi meskipun begitu, mereka tetap bersemangat untuk belajar dan terbuka untuk mencoba. Setelah mengajar rap singkat dan sederhana dalam bahasa Inggris, saya pisah ruangan menjadi dua kelompok, satu rap group dan satunya beat box sehingga mereka semua bekerja sama untuk menciptakan sedikit hook keren.

Saya akhirnya mulai terbiasa mengendarai skuter. Lalu lintas tidak banyak mengganggu saya, pada kenyataannya, saya agak suka situasi jalanannya. Ini sangat kontras dengan lalu lintas yang biasa saya dapati di Amerika. Disini aturan mudah dilanggar tanpa kesalahan. Anda akan berpikir ini akan mengakibatkan beberapa kecelakaan. Saya tidak pernah melihat kecelakaan seperti kecelakaan yang saya lihat di Amerika sepanjang waktu yang saya dihabiskan di Bali. Omong-omong, ada konsep di Indonesia yang dikenal sebagai Jalan Jalan, yang saya percaya secara harfiah berarti berjalan, tetapi memiliki konotasi “Aku hanya akan pergi berkeliling.” Setelah saya mengendarai skuter selama beberapa hari, saya memutuskan untuk pergi jalan jalan. Saya naik ke skuter saya, dan jalan. Saya tidak berpikir tentang kemana saya mau pergi, saya hanya jalan sekitar satu jam. Seperti saya mengendarai mobil, saya menunjukkan hal-hal sepanjang jalan dan berpikir, “Oh aku sudah lewat sebelumnya,” atau, “Jadi di sinilah tempat itu!” Paruh pertama petualangan saya hebat, tapi kemudian saya harus mencari tahu jalan pulang. Sepanjang waktu saya di Bali, saya rasa tidak sulit untuk menemukan tempat-tempat, tapi mencari jalan pulang dari tempat-tempat itu merupakan tantangan besar. Saya akhirnya menemukan jalan kembali, tapi jelas mengambil dalam waktu yang sukup lama.

Saya diundang untuk berselancar untuk kedua kalinya. Tentu saja saya setuju. Sayangnya, saya tidak untuk menanyakan tentang ukuran atau kesulitan gelombangnya sebelum mengendarai skuter sekitar 30 menit ke Pantai Batu Bulong. Bahkan gelombang ditepi pantai cukup kuat untuk menjatuhkan saya jika saya tidak berkonsentrasi. Tapi, saya pikir saya akan mencobanya. Airnya sangat dalam, ada banyak peselancar yang berpengalaman, dan saya yang hanya duduk di papan dan berpura-pura seperti tahu apa yang saya lakukan. Saya akhirnya mencoba satu gelombang, dan sebagai hasilnya, saya dihempaskan seperti bulu yang ditiup angin. Saya kira itu membutuhkan waktu untuk tahu satu per satu. Melangkah ke pantai setelah itu adalah perasaan yang menyegarkan dan santai. Saya suka daratan, saya benar-benar menyukainya.

Minggu ini adalah 4 Juli pertama saya yang saya tidak habiskan di Amerika Serikat. Jadi saya mengambil bendera Amerika yang saya bawa sebelumnya, dan saya pergi ke luar lingkungan kami dan mompotret saya sendiri untuk memastikan saya bisa menampilkan sedikit patriotisme.